Ayah maafkan aku ayah-yang telah lalai & terlambat menyampaikan betapa sayangnya diriku padamu....
Aku,aku kini terpuruk atas semua ini aku bak' tenggelam dalam lautan dosa yang sangat keruh sehingga tak nampak satu ikan pun yang dapat aku lihat lagi walau mataku ini dapat melihat lubang jarum jahit sekalipun,tapi,tapi kini aku merasa buta,buta akan kewajibanku sebagai anakmu,yaaa Allah ampuni segala dosa & kesalahan-nya ---sadarkan aku atas kewajibanku ini ya Allah,hanya dengan menulis,berdo'a,membuat puisi untukmu wahai-ayahku yang bisa menutup rinduku padamu walau kadang air mata ini juga tak mampu ku bendung lagi,aku merasa salah,sangat bersalah ketika aku mendengar ceramah salah seorang Ustad di Masjid Raya,Durian Tinggi,Sumbar.
Aku hanya bisa terisak-isak menahan suara yang tertahan dalam hatiku,hati ini tertahan berkata,bergetar seolah "tiada guna diriku ini hidup di dunia ini" apakah aku tiada guna.....
--aku keluh dengan apa yang tlah terjadi padaku,
Sedang apa engkau di sana ayah....?
Apa,mengapa,siapa,dimana,kapan andai kata-kata itu masih bisa ayah jawab alangkah indah,merdu suara ayah---aku rindu dikala ayah minta "No tolong rapikan kuku bapak,aku bisa genggam tangan engkau betapa dingin tanganmu ayah....."
Kata tinggal kata [428] artikel tiada arti bagimu,berjuta huruf ku ketik tiada arti bagimu---
Kemana aku harus melangkah....
“Tulisan ini sy dedikasikan untuk ayah khususnya,dan sekaligus utk memperingatkan betapa mulianya kata-kata seorang ayah sehingga membuat kita selalu merindukannya” ~by.Nano-Setiyono-~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar